Friday , 31 October 2014
IMELDA'S UPDATE
Home / INSPIRASI PAGI / Senyum Yang Menular

Senyum Yang Menular

Di suatu pagi cerah aku tengah kesal dengan pembantuku. Seperti biasa, ia selalu menyiapkan sarapan yang tidak kuharapkan. Sajian yang biasa saja dan tidak menyenangkan untuk dimakan. Padahal, jika memang ia tak bisa memasak, aku sudah membelikannya buku resep masakan Indonesia bahkan negara lain. Harapannya, ia bisa belajar dari buku tersebut agar masakannya seenak masakan restoran mewah. Sayangnya, memang dasarnya ia tak bisa memasak, rasanya pun selalu hambar. Dan, seperti biasa, jika mendapati sarapan yang tak enak, aku selalu berangkat kerja lebih awal untuk mampir membeli sarapan di salah satu resto fast food dekat kantor.

” Sering, orang menyepelekan arti senyuman. Padahal, dalam senyum tersimpan sebuah energi positif dan optimis yang dapat ditularkan pada orang lain.”

Sesampainya di resto fast food tersebut, dengan wajah yang masih kusut, aku mengunyah makanan dengan cepat. Tak kulihat seorang anak kecil lusuh yang tengah memandangku dengan tatapan ingin. Badannya yang lusuh tak membuatku tertarik. Pasti bau, pikirku. Tetapi, yang membuatku tertarik untuk melihatnya adalah sebuah senyuman yang diberikan padaku. Ya, anak kecil lusuh tersebut tersenyum menatapku yang tengah melihatnya dengan tatapan bengong. Saat sadar, anak kecil itu masih saja tersenyum ditambah dengan anggukan yang tak kumengerti maksudnya. Sedikit senyum kuberikan, untuk menghormatinya yang telah memberiku senyuman.

Sampai di kantor, rasa kesalku pada pembantu sedikit berkurang, meski tidak sama sekali. Hingga aku bertemu dengan seorang OB yang menyapaku dengan anggukan dan senyuman. Aku tahu pasti, itu adalah sapaan pagi yang setiap harinya kutemukan. Hanya saja bedanya, entah mengapa ada rasa aneh yang membungkus pagi itu hingga terasa sedikit berbeda. Akhirnya, kuanggukan kepala dengan seulas senyum tipis sekali, membalas sapaannya seraya berjalan menuju ruang kerjaku.

Meeting siang itu berlangsung sukses. Aku tersenyum puas dengan kinerja bawahanku yang kian melesat. Hingga satu genggaman salam mengagetkanku,

“Saya senang, akhirnya melihat ibu tersenyum puas dengan kinerja saya.”

Deg! Kalimat itu terus terang saja membuat jantungku berdegup kencang. Seperti apa aku biasanya kok sampai ada kata ‘akhirnya’? Kubalas senyuman bawahanku, lalu segera berlalu dari hadapannya, berjalan menuju ruang kerja.

Sampai di meja kerja, kupanggil teman akrabku, kuceritakan semua kejadian hari ini. Sejak di resto fast food, OB, dan barusan di ruang meeting, lengkap tanpa ada satu detil aksi yang terlewatkan. Kalian tahu apa yang diucapkan teman baikku itu?

“Senyum itu menular Riska. Selama ini, kalau boleh jujur, kamu kurang senyum pada siapa saja yang ada di dekatmu, kecuali aku ya. Makanya, bawahanmu takut sama kamu. Percayalah, senyum akan membuat harimu indah dan bahagia. Sekarang, apa yang kamu rasakan setelah tiga kali melempar senyum pada mereka?”

Ada rasa hangat yang menjalar hebat seiring dengan degup jantungku.

Sering, orang menyepelekan arti senyuman. Padahal, dalam senyum tersimpan sebuah energi positif dan optimis yang dapat ditularkan pada orang lain. Ingatlah, energi positif dan optimis itu menular. Sebuah aksi yang menguntungkan bagi Anda dan orang lain, bukan?

SUMBER:vemale.com
LINK: http://www.vemale.com/inspiring/lentera/14154-senyum-yang-menular.html

About Done Akbar

The King of mix, MC, Announcer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>